Text
Hipersemiotika : tafsir cultural studies atas matinya makna
Buku tentang semiotika ini dimulai dari sebuah definisi semiotika yang dikemukakan oleh Umberto Eco yang mengatakan, bahwa semiotika"...pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie). Definisi Eco ini-meskipun mungkin sangat mencengangkan banyak orang-secara eksplisit menjelaskan betapa sentral-nya konsep dusta di dalam wacana semiotika, sehingga dusta tampanya menjadi prinsip utama semiotika itu sendiri.
Kenapa? Karena, semiotika sebagai satu bentuk representasi pada dasar-nya adalah sesuatu yang hadir namun menunjukkan bahwa sesuatu di luar dirinyalah yang dia coba hadirkan. Representasi tidak menunjuk kepada diri-nya sendiri, namun kepada yang lain. Karena sifat dasarnya itulah, maka representasi sering dipermasalahkan ihwal kemampuannya untuk bisa menghadirkan "sesuatu" di luar dirinya, karena seringkali representasi malah beralih menjadi "sesuatu" itu sendiri. Jurang yang terbentuk antara representasi dan yang direpresentasikan ini seringkali terlupakan oleh manusia.
Nah, permasalahan "tipuan" seperti inilah yang menjadi landasan pem-bahasan tentang hipersemiotika dalam buku. Inilah buku yang menjadi rujukan wajib bagi para pemerhati semiotika dan cultural studies.
| B01712S | 401.01 YAS h | Perpustakaan Daerah (400) | Sedang Dipinjam (Jatuh tempo pada2025-07-16) |
Tidak tersedia versi lain